<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057</id><updated>2011-07-08T06:50:35.227-07:00</updated><title type='text'>Buku, Musik, Film</title><subtitle type='html'>Merayakan makna, medium dan ide.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-114705369265461684</id><published>2006-05-07T18:58:00.000-07:00</published><updated>2006-05-07T19:03:48.633-07:00</updated><title type='text'>Lagi: Membaca Ishiguro</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/neverletmego.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" align=left hspace=8 width=200 height=280&gt;&lt;/a&gt;Membaca Ishiguro memang bisa jadi melelahkan. Caranya bercerita yang senantiasa berupa reminiscence tak beraturan dari satu atau dua tokoh utamanya tak pernah memang tak pernah gagal memancing rasa ingin tahu. Tapi setelah sekian ratus halaman membaca loncatan-loncatan memori yang seringkali nggak urut, saya tidak bisa tidak merasa sedang digoda habis-habisan oleh penulis kelahiran Jepang yang besar di Inggris ini. Cara bercerita Ishiguro memang tidak berubah. Trik yang sama diulang-ulangnya dari buku pertama hingga bukunya yang terbaru, terbit tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-bukunya yang pertama, A Pale View of Hills (1982), Artist of the Floating World (1986) dan The Remains of the Day (1989) masih mengambil setting di ‘hari ini’ di ‘dunia yang kita akrabi’, di mana waktu berjalan linear meski ingatan manusia mungkin memang bisa (dan biasa) mbulet tak berujung tak berpangkal. Melalui buku-bukunya, Ishiguro menunjukkan kepiawaian dalam memahami labirin pemikiran manusia. Betapa cara seseorang bercerita tentang sesuatu yang terjadi lama lalu, caranya memerikan sifat, perilaku, tindak tanduk seseorang lain justru jadi jendela lewat mana kita melihat sifat dan perilaku si pencerita. Ishiguro tidak mendeskripsikan karakter tokoh-tokohnya, ia menggambarkan, ‘menyarankan’, karakter-karakter tersebut. Kita diajak untuk merasakan, menimbang dan memutuskan karakter masing-masing melalui cara para tokoh merekam dan menceritakan masa lalu mereka, apa yang mereka ingat dan apa yang mereka lupakan. Subtilitas ‘penggambaran’ karakter utama Ishigurolah yang mungkin merupakan salah satu alasan utama kenapa saya ‘ketagihan’ membaca novel sarjana seni Universitas Kent, Inggris ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam beberapa bukunya yang terakhir (saya harus mengaku baru baca The Unconsoled bertahun 1995 dan baru selesai menikmati bukunya yang terbaru: Never Let Me Go terbit tahun lalu di awal tahun, ada satu bukunya yang belum terbaca When We were Orphans dari tahun 2000) Ishiguro mulai bertualang ke dunia yang berbeda. Caranya bercerita belum berubah. Dus, pembacanya masih tetap diajak untuk mengupas karakter tokoh-tokohnya selapis demi selapis, secerita demi secerita. Yang secara kontras membedakan The Unconsoled dan When We were Orphans dari tiga buku pertama Ishiguro adalah latar dunia di mana narasi mengambil tempat. Dalam The Unconsoled, seorang pianis dibawa terlempar ke satu kota di antah berantah Eropa di mana waktu, ruang, realitas, mimpi, dan ingatan seolah teraduk jadi satu tanpa pembatas yang jelas. Ketika satu pintu dibuka, setting siang di ruang yang baru ditinggalkan tiba-tiba beranjak jadi malam di ruang yang baru dimasuki. Menantang memang, kita seolah dilemparkan ke satu setting di mana segala yang kita mengerti sebagai realitas dan prediktabilitas diputar bolak-balik. Meski inovatif, saya mesti mengaku kalau dunia baru ini kelamaan jadi membosankan, justru karena absennya ‘hukum-hukum’ sederhana yang menata keseluruhan 'realitas' dalam buku tersebut. Absennya sistem. A complete chaos ternyata membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di bukunya yang terakhir, Ishiguro dengan berani mengolah satu issue relatif baru yang diperkenalkan oleh sains belakangan ini: dunia yang mengenal teknologi kloning. Dengan fantasi yang menarik, elaborate namun masih bisa diterima logika, Ishiguro mencoba menceritakan pada kita tragedi kemanusiaan yang mungkin terjadi di dunia di mana manusia dapat ditumbuhkan dari satu sel primula manusia lain. Yang sungguh saya suka dari novel terakhir ini, adalah ia tidak ‘jatuh’ ke klise novel fantasi. Ia tidak mengebom kita dengan detil-detil futuristis. Sebaliknya, Ishiguro meletakkan ceritanya di Inggris, dengan detil geografik yang masih bisa kita akrabi. Ia berhasil menarasikan satu kemungkinan tragedi di masa datang tanpa terjebak di masa yang belum datang itu. Meski begitu, sebagaimana paragraf pembuka saya di depan. Plot Ishiguro berjalan sungguh pelan, dengan revelasi yang sporadis tentang kepingan-kepingan penting dari keseluruhan cerita. Karena pelannya plot, seringkali revelasi serupa jadi sudah terbaca sebelum ia mengada. Alih-alih menjadi penggugah untuk membaca lebih jauh, ia malah terasa sebagai anti klimaks yang datang berulang-ulang. Jika dalam The Unconsoled Ishiguro sukses membingungkan saya dengan keliaran plot, maka Never Let Me Go sukses membuat saya bosan di tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, keunikan dan kelihaiannya mengolah tema masih tetap jadi gimmick tersendiri untuk membaca buku ini hingga tuntas. Dan sebagaimana yang mungkin dimaksudkan oleh Ishiguro ketika menulis buku ini, saya kira buku ini punya cukup kekuatan untuk mengundang kita kembali mempertimbangkan betapa pilihan-pilihan kita sebagai ras hari ini akan memiliki konsekuensi yang tak terpikirkan di masa mendatang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-114705369265461684?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/114705369265461684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=114705369265461684' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/114705369265461684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/114705369265461684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2006/05/lagi-membaca-ishiguro.html' title='Lagi: Membaca Ishiguro'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-114693108915608207</id><published>2006-05-06T08:53:00.000-07:00</published><updated>2006-05-07T17:52:16.390-07:00</updated><title type='text'>Persepolis</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img height="250" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" hspace="9" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/persepolis_cover_big.jpg" width="180" align="left" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh sebuah grafik dari sebuah ‘novel grafik’? Apa yang membedakannya dari novel, tanpa grafik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi yang menghiasi, dan jadi bagian dari narasi adalah seni tersendiri. Ia memperkaya, membantu menciptakan atmosfer, merangsang ujung-ujung saraf yang berbeda dari yang diarah oleh narasi. Ilustrasi akan senantiasa mengisyaratkan tafsir. Namun saya kira ilustrasi yang baik bukanlah tafsir yang membatasi, ia lebih seperti semacam ujaran, saran. Mungkin karena itu, ilustrasi selalu bisa dipisahkan dari narasi dari mana ia berasal. Sonder ilustrasi, narasi akan tetap bercerita bagi pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, novel grafik memakai grafik sebagai mediumnya bercerita. Narasi ada pada grafik itu sendiri. Bukan cuma pada huruf-huruf yang mengemukakan dialog, ia ada pada goresan pena, warna, mood dari masing-masing panel. Dan seperti halnya tiap penulis novel tanpa grafik punya kekhasannya sendiri dalam memilih diksi, cara bercerita dan sudut pandang, tiap kreator novel grafik punya kemerdekaannya dalam menentukan isi tiap-tiap panelnya. Warna, detil, sudut pandang. Pun ekonomi dialog. Charles Schulz, penulis Snoopy pernah tertangkap tangan berkata “Bagian tersulit dari melukis Snoopy adalah menentukan apa yang akan dikatakan, atau tidak katakan, oleh masing-masing figur.” Well, batasan ruang dari Snoopy sebagai komik selarik memang membuat ekonomi dialog jadi penting. Tapi saya kira, menulis terlalu banyak kata dalam satu novel grafik terasa sebagai pengkhianatan atas identitas grafik novel itu sendiri. Mungkin itu sebabnya, meski masih tetap menikmati karya2 nya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Art_Spiegelman"&gt;Art Spiegelman&lt;/a&gt;, saya lebih suka membaca &lt;a href="http://www.randomhouse.com/pantheon/graphicnovels/persepolis.html"&gt;Persepolis&lt;/a&gt; nya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Marjane_Satrapi"&gt;Marjane Satrapi&lt;/a&gt;. Buat selera saya, beberapa novel Spiegelman terkadang mengambil terlalu banyak tempat untuk teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/persep.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" align=right width=290 height=350 hspace=8&gt;&lt;/a&gt;Marijane Satrapi terlahir di Rahst, Iran tahun 1969. Terlahir di keluarga progresif yang kemudian menetap di Tehran, Satrapi bertumbuh bersama gelombang naik turun politik Iran. Novel grafik Satrapi, Persepolis I, adalah autobiografi yang menarik dari seorang saksi mata penggulingan Shah Iran oleh Ayatollah Khomeini dan perang Iran-Irak yang menyusul sesudahnya. Lebih menarik lagi, sang saksi mata adalah seorang anak yang tengah beranjak dewasa. Saya kira pilihan untuk menulis autobiografi ini sebagai novel grafik adalah strategi yang cerdas. Disuguhkan dalam komposisi hitam putih, dengan garis-garis tegas dan sederhana, panel-panel Persepolis terasa inosen, jujur dan apa adanya. Jadi inosen, atau jujur atau apa adanya, sesungguhnya adalah pilihan yang sungguh berani jika diambil secara sadar. Seringkali semua karakter tadi terbaca sebagai bodoh, naif, dan tidak realistis di dunia di mana relativitas bersimaharaja. Relativitas, berubah cepatnya nilai-nilai di sekeliling, revelasi akan kapasitas manusia untuk jadi brutal (kontras dengan imaji, atau mimpi, tiap orang bahwa manusia terlahir baik) adalah latar belakang Persepolis I. Disandingkan dengan cerdas, inosensi yang lahir dari kesederhanaan grafik dan kekalutan yang tengah digambarkan oleh keseluruhan novel ini jadi materi baca yang menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepolis I sebagaimana diterbitkan di Amerika sesungguhnya adalah Persepolis 1 dan 2 (sebagaimana mula-mula diterbitkan) yang digabung bersama. Sementara Persepolis II di Amerika adalah Persepolis 3 dan 4 yang diterbitkan jadi satu. Keseluruhan ‘seri’ bercerita dengan luwes, menyentuh tanpa banyak gaduh, tentang perjalanan hidup dan pemikiran seorang wanita Iran yang tidak bersetujuan dengan ‘filosofi nasional’ negaranya sendiri sebagaimana yang dirumuskan oleh mayoritas pemimpin bangsanya. Cerita seorang eksil, saya temukan selalu menarik. Tapi cerita seorang eksil yang dikemas dalam bentuk novel grafik? Sungguh sedap betul!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-114693108915608207?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/114693108915608207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=114693108915608207' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/114693108915608207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/114693108915608207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2006/05/persepolis.html' title='Persepolis'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-114252616476994627</id><published>2006-03-16T08:21:00.000-08:00</published><updated>2006-05-07T19:26:03.473-07:00</updated><title type='text'>Nick Hornby: wittiness is not dead, yet!</title><content type='html'>Ok .. OK .. I know it's just a rerun from my other blog .. but hey, I thought it should go better here than &lt;a href="http://laluwaktu.blogspot.com"&gt;there&lt;/a&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Really, I'm not always up to books with cheeky conversations and witty comments. But you know some of the books of that kind weave magic!! You can actually feel the wide grin of the writers in front of their on-going work, imagining their readers' respond. I got that kind of sensation when I read Oscar Wilde, or Irish Murdoch. The serious jokers. The chronic cynics. The life-mockers who love life all the same. The ones that will knock you off your feet with dazzling one-liners out of the blue. Offhand comments on such 'important' matters, like life, or God, or love, or sex fly right through their pages. I do relish on such books, I really do. But then, it's not easy to find such composition without it being too cheesy, too anxious of being funny, so lacking of self-confidence. You can browse through English book section in a German bookshop (well, rest assured they are not many but still...) and find none of those works to be nearly as witty as they should be.&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 183px; HEIGHT: 262px" height="280" alt="Image hosted by Photobucket.com" hspace="7" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/hornby.jpg" width="198" align="right" /&gt;Some of the contemporary writers do reach the level of mastery, though. &lt;a href="http://www.identitytheory.com/interviews/birnbaum108.html"&gt;Jonathan Safran Foer &lt;/a&gt;certainly did. Everything is Illuminated is as funny as fun can be. A tour de force of self-worship, done with a detachment close to a scientific observation, it is a masterpiece of the 28 years old Jewish writer. Another contemporary wit that has successfully reached such level is Nick Hornby.&lt;br /&gt;You might have watched ‘&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0146882/"&gt;High Fidelity&lt;/a&gt;’ (Stephen Frears) or ‘&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0276751/"&gt;About a Boy&lt;/a&gt;’(Weitz brothers). What do you think about those movies? Well, if you don't like them, try the books. Goodness gracious, these books are made of laughter, light spirited jolts and a good amount of bollocks (as Horby’s protagonists will surely put it). Not mere bad cheap slapstick jokes, but slapstick jokes manoeuvred with amazing wittiness. He brought them out at perfectly correct moods, and with a good dose of insensitivity. He laughed about all, about death, relationship, hard stuff. But he also joked at man and manliness; you know ... the unimportant things. Gosh, I had good time at trams and trains reading Hornby's works. Take ‘High Fidelity’ for example, it narrates in a clever guise of humour, the contradictory feeling, the guilt and paradox of being a man. Incapable of retaining any straight logic, yet boasting itself as the more logically advanced sex (oh yes, men don't readily produce reason, they produce lists ... name your five top blonde you want to be with...). Being all-emotional yet persistently murmuring its curse as the more emotionally-challenged being (so 'you got on well with your new partner, eh?' means 'did you sleep with him yet?').&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 171px; HEIGHT: 253px" height="290" alt="Image hosted by Photobucket.com" hspace="7" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/highfidelity.jpg" width="71" align="left" /&gt;Well, okay, you might find the book funny in a bit-too-vulgar sense. Unlike Wilde or Murdoch, you might even add. But then again, don't you think that the vulgar is not a static area? Do its boundaries not a dynamically moving shade limiting the land of clear conscience? Meaning, whatever vulgar by the time of Wilde and Murdoch might not worth a tickle in the conscience of nowadays defender of ethical values? And what we have in Hornby's now is something that is unthinkable to be spread out in public by the time of Oscar Wilde? (I don't really think so though ... I mean, when did Marquis de Sade wrote his 120 days of Sodom? :) ) So what we read in Hornby's work is just a common cost of being witty ... by being a bit out of necessity.&lt;br /&gt;Anyway, they are funny and refreshing. Personally, I always like the poetry borne out of daily and mundane objects of life. Kind of descriptions you'll find in the books of Arundhaty Roy (yes mbak &lt;a href="http://caranita.blogspot.com"&gt;Lenje&lt;/a&gt;, I finally read them) or Steinbeck or Gabriel Garcia Marquez. But it IS refreshing that the same quality of celebration of life daily mundane aspects (such as man insecurity, and man's thought and man's dreams) can still be drawn out of pure wit, in the form of simple jokes, without being at all poetic.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-114252616476994627?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/114252616476994627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=114252616476994627' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/114252616476994627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/114252616476994627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2006/03/nick-hornby-wittiness-is-not-dead-yet.html' title='Nick Hornby: wittiness is not dead, yet!'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-112141626049149558</id><published>2005-07-15T01:21:00.000-07:00</published><updated>2005-07-15T01:33:37.146-07:00</updated><title type='text'>Hush ...</title><content type='html'>&lt;img style="WIDTH: 222px; HEIGHT: 228px" height="206" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/hush.bmp" width="198" align="left" /&gt; Di salah satu album Ella Fritzgerald, seorang pengiringnya sempat memuji ikon vokal Jazz ini sebagai 'first and foremost jazz musician' karena cerdas dan tanggapnya sang vokalis beradu improvisasi versus alat musik yang tengah mengiringinya. Vokalisasi yang lebur jadi bagian dari keseluruhan musik. Bukan sebagai highlight yang mesti dilayani, bukan pula sebagai pulasan latar belakang.&lt;br /&gt;Vokalis semacam yang paling saya suka adalah Boby McFerrin. Musik McFerrin biasa berisi gumam tanpa kata yang disenandungkan bersama alat-alat musik lain. Vokalnya menjelma jadi instrumen tersendiri yang memberi warna tak tergantikan dari keseluruhan musik. Terlahir dari pasangan orang tua yang sama-sama musisi klasik, McFerrin berangkat dari jazz, dilabeli stimmwunder (the magic voice) oleh kritikus musik Jerman yang dikenal nyinyir, untuk kemudian juga meruak merambah dunia musik kamar dan simfoni.&lt;br /&gt;Ada beberapa album McFerrin yang jadi repertoir favorit saya, kerja barengnya dengan The Yellow Jackets dan Chic Corea adalah dua contoh. Namun satu yang paling ‚ringan’ sekaligus ‚cemerlang’ adalah 'Hush' hasil kolaborasinya dengan Yo-Yo Ma. Berisi 13 nomor, di mana vokal McFerrin bersahutan dengan gesekan cello Ma. Album ini benar-benar terasa sebagai hasil kerja yang serius dalam bermain-main. Karena latar belakang klasik kedua pemusiknya, tak mengejutkan bila album ini kemudian banyak diberkati oleh nomor2 besutan Bach dan Vivaldi. Salah satunya adalah Andante from Concerto in D minor nya Vivaldi, piece ini sebenarnya ditujukan buat dua mandolin untuk saling bersahutan. Well, di sini mandolin pertama diambil alih oleh Ma, sementara mandolin kedua ... diisi oleh vokalisasi McFerrin. Hasilnya? Unik!&lt;br /&gt;Suka "The Flight of Bumble bee" nya Rimsky-Korsakov? Mesti coba dengar interpretasi kedua pemusik ini!! Selihai-lihainya alat musik dipetik atau digesek untuk menghasilkan efek buzzing dari lebah madu, tetap saja kalah gereget dibanding liukan vokal seorang McFerrin. Di nomor ini cello Ma bernyanyi solid sementara vokal McFerrin menyenggak di sana-sini menciptakan efek hidup yang susah dicari padanannya. Lain ceritanya dengan Ave Maria nya Bach, di mana senandung a la chanting McFerrin bertindak sebagai penjaga ritme di latar belakang sementara cello Ma berkisah kalem perihal devosi melodius buat bunda Yesus.&lt;br /&gt;Buat saya, nomor paling sedap dari album yang -konon kabarnya- dimaksudkan untuk 'membangunkan anak-anak dalam diri setiap orang dewasa' (demikian McFerrin-Ma dalam introduksi mereka) adalah 'Hush Little Baby'. Nomor tradisional yang dibawakan begitu melebar, playful, carefree. Cello Ma dipetik, digesek, kedengaran juga tepukan, berbagai variasi vokal, suara ketawa ... cuma di lagu ini pula bisa dinikmati McFerrin menyanyi.&lt;br /&gt;Keberanian keduanya untuk bermain-main, untuk dengan serius mencoba jadi nggak serius, punya efek sugestif tersendiri. Memulai pagi dengan kopi fresh roast berteman musik satu ini seolah ada keyakinan sederhana yang lahir dari ketiadaan, mengumpul di tengah diri bak embun di lekuk daun. Sebuah iman bahwa meski setumpuk target dan kewajiban menumpuk sesak di tiap tikungan jam dan menit, semua bakal baik-baik saja hari ini ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-112141626049149558?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/112141626049149558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=112141626049149558' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/112141626049149558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/112141626049149558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2005/07/hush.html' title='Hush ...'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-111901914981293840</id><published>2005-06-17T07:02:00.000-07:00</published><updated>2005-06-17T07:39:09.850-07:00</updated><title type='text'>Campur sari interpretasi</title><content type='html'>Salah satu jenis kerja musik yang saya paling doyan jelajahi adalah reinterpretasi satu sekolah musik oleh seseorang dari luar aliran bersangkutan.&lt;br /&gt;Hasilnya seringkali adalah karya yang ajaib dan segar betul.&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 226px; HEIGHT: 203px" height="220" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/ChickCorea.jpg" width="236" align="left" /&gt;Salah satunya, adalah ketika Chick Corea, die wunderkind, mantan pianis Lionel Hampton yang ramuan tuts keyboard nya ranging dari imajinatif sampai bikin pusing kepala itu (iya lho ... baru setelah denger beberapa album 'eksperimental'nya saya ngaku kalo keyboard ternyata sangat bisa dibikin jadi semembingungkan instrumen tiup di bibir Coltrane) main bareng Friedrich Gulda dan Harnoncourt. Dua pianis yang disebut belakangan itu namanya sering terdengar di belantika musik klasik. Gulda sering tersua kalo lagi nyari CD nya Beethoven, sementara Harnoncourt lebih sering main musik dari jaman baroque. Itu juga kalau nggak salah. Abis gimana, saya kan sebenernya buta musik, cuma ngerti dengerin dan bilang sreg atau nggak ...&lt;br /&gt;Biar begitu, ketika denger trio Corea, Gulda dan Harnoncourt main concerto piano no. 23 dan 26 nya Beethoven dengan dikawal Royal concertgebouw (konon orkestra nomor satunya Belanda) ... ada sesuatu yang menyeruak naik. Kegairahan yang berbeda dari interpretasi-interpretasi Bethoven lain yang pernah saya dengar. Tempo yang longgar, dan begitu cerdas dimain-mainkan. Dan ah .. ah .. di interpretasi Bethoven mana lagi bisa didengar salah satu pianis tiba-tiba berhenti main dan sekedar mengikuti lajunya beat dengan tepukan tangan ritmis satu dua satu dua ?&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 204px; HEIGHT: 202px" height="183" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/yo_yo_ma.jpg" width="181" align="right" /&gt;Karya lain yang saya suka, adalah Yo Yo Ma playing the music of Astor Piazzola. Menurut sahibul cerita, Astor Piazzolla adalah pendekar bandoneon yang merevitalisasi tango di jagad musik Argentina. Sementara Yo Yo Ma? yang saya tahu sih, cellist kelahiran Paris ini lebih sering saya lihat di cover CD yang mengusung Brahms, Schumann atau Mozart. Tapi pas si bapak berkacamata ini menggesek cellonya demi nama Astor Piazzolla ... wah ... saya seperti diterbangkan begitu saja ke ranah latin dimana gairah bertebaran di udara seperti serbuk bunga.&lt;br /&gt;Album Ma bertahun 1997 ini dibuka oleh 'libertango', yang tempo monoton menghentaknya menjelma jadi ajakan untuk tak kepalang tanggung melebur dalam passion dan gelegak. Dan sepanjang Cd ... duh, itu cello bisa-bisanya seolah berubah-ubah bunyi. Terkadang miris terkadang galak, nggak kalah tangguh dari bandoneon yang -sebelum dengerin CD ini- terkesan paling pas menceritakan Tango.&lt;br /&gt;Ya, dua album di atas itu lah yang bikin saya nggak lelah berburu campur sari interpretasi lain. Kerja dari manusia-manusia yang tak betah untuk dibatasi oleh pagar-pagar maya yang membelenggu begitu banyak kolega mereka. Mendengar dan menikmati mereka bermain-main di luar zona nyaman masing-masing seolah menginspirasi diri untuk selalu berbuat serupa ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-111901914981293840?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/111901914981293840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=111901914981293840' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/111901914981293840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/111901914981293840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2005/06/campur-sari-interpretasi.html' title='Campur sari interpretasi'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-111518924578070481</id><published>2005-05-03T23:40:00.000-07:00</published><updated>2005-05-03T23:54:26.736-07:00</updated><title type='text'>Merayakan Kemanusiaan Yang Tak Sempurna</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kazuo Ishiguro: “The Artist of The Floating World” dan “The Remains of The Day” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Ishiguro.bmp" alt="Image hosted by Photobucket.com" align="left"&gt;Menikmati buku-buku Ishiguro bisalah dibayangkan bak berjalan-jalan menikmati taman jalan bercecabang a la Luis Borges. Meski baru dua buku Ishiguro yang sempat mampir di tangan, keduanya bicara dengan langgam yang mirip. Bicara sebagai orang pertama yang menjalani hari-hari musim gugur kehidupan, tokoh-tokoh Ishiguro menemukan diri mereka reminiscing, mengingat berbagai hal yang lewat sudah. Dan dengan memanggil kembali percakapan-percakapan lama, kenangan dan kesan lalu, mereka mendefinisikan harapan-harapan, menemukan keinsyafan-keinsyafan baru.&lt;br /&gt;Mengapa jalan bercecabang?&lt;br /&gt;Dalam bukunya ‘The Artist of the Floating World’ maupun ‘The Remains of The Day’, tak ada plot serba tahu serba linier yang membuka mengembang di hadapan pembaca. Sebaliknya, digresi, lamunan, loncatan-loncatan cerita berbelak-belok dengan luwesnya di sepanjang teks. Pembaca seolah diajak untuk berjalan-jalan di labirin taman benak tokoh-tokohnya.&lt;br /&gt;Dalam The Artist of The Floating World, adalah Matsuji Ono yang membawa kita melihat derap perubahan di Jepang masa setelah Perang Dunia. Bukan hanya mencicipi arus perubahan di permukaan kulit, namun juga menyelam ke masa lalu Ono di era militerisme Nipon. Dan dalam drama yang nyaris tanpa gelegak eksplisit, pembaca di bawa melihat perubahan dan ketaksempurnaan hidup seorang manusia, melalui deskripsi olah emosi dan pergeseran cara pandang yang subtil.&lt;br /&gt;Setting berbeda tersaji dalam The Remains of The Day, di mana narasi tersampaikan melalui seorang butler Inggris. Setting waktu masa krisis Terusan Suez berdiri bisu di belakang, sementara sudut pandang seorang butler (yang terasa benar serupa mitos di sini) akan gilang gemilang karir diplomasi tuannya jadi bahan pemikiran yang asyik sungguh. Juga di buku ini, kita dibawa bermain dalam masa lalu sang protagonis. Masa lalu yang tak obyektif. Masa lalu sebagaimana sang tokoh melihat, mengalami dan memaknainya. Masa lalu yang terkadang tersua sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda ketika dialog bersambung dengan tokoh lainnya.&lt;br /&gt;Maka tak pelak lagi, simpati pun mengalir buat tokoh-tokoh Ishiguro. Yang sama-sama tak sempurna. Tak sempurna dalam sempitnya cara pandang. Tak sempurna dalam bertutur, bertindak dan berpikir. Di pihak lain, cara cerita retrospektif a la Ishiguro juga tak menawarkan keinsyafan yang khas cerita agama. Alih-alih, ia menawarkan solusi alternatif tentang ketaksempurnaan: untuk jadi puas akan apa yang telah terjadi, tntuk merayakan kemanusiaan yang memang takdirnya untuk jadi tak sempurna.&lt;br /&gt;Menarik juga untuk memperhatikan mulusnya tokoh-tokoh Ishiguro bertutur, santun dan serba terukur. Jadi lebih menarik lagi jika disadari bahwa keduanya berlatar berbeda, yang seorang seniman Jepang sedang yang lain butler Inggris: betapa mirip laras bahasa dan cara merasa keduanya. Meski demikian, kemiripan tadi tak terasa dipaksakan. Sebaliknya, justru terasa sungguh natural. Tak ayal, mata kita mesti tertumbuk pada sang pengarang, si pemintal benang cerita. Kazuo Ishiguro, lahir di Nagasaki beberapa tahun setelah usainya perang dunia kedua. Di usia sembilan tahun, orang tua Ishiguro hijrah ke Inggris. Karena berencana untuk kembali ke Jepang dalam waktu dekat, Ishiguro kecil dididik dalam tradisi Jepang yang kental. Sang kala bicara lain, keluarga Ishiguro menetap di Inggris dan mengenyam pendidikan tinggi di universitas negerinya Shakespeare itu. Dengan modal pemahaman akan dua budaya berbeda inilah tokoh-tokoh Ishiguro jadi tergambarkan hidup dan dinamis, meski tetap berbagi ketaksempurnaan yang sama. Sebagaimana semua kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-111518924578070481?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/111518924578070481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=111518924578070481' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/111518924578070481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/111518924578070481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2005/05/merayakan-kemanusiaan-yang-tak.html' title='Merayakan Kemanusiaan Yang Tak Sempurna'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-111106125055995164</id><published>2005-03-17T03:51:00.000-08:00</published><updated>2005-03-17T04:07:30.563-08:00</updated><title type='text'>Magi Improvisasi</title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/KeithJarrettKlnConcert.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"align=left&gt;Keith Jarrett, terlahir di Amerika dari keluarga berakar kuat di Eropa, adalah salah satu pianis yang merambah begitu banyak medan musik. Dibesarkan dalam tradisi piano klasik, Jarrett menulis dan menerbitkan beberapa album solo klasik. Namun namanya -kalau nggak salah- sempat terbawa juga bersama charles Lloyd Quartet, dan setelahnya bersama band nya Miles Davis, sebagai pianis kedua, siapa pianis pertamanya? Yup, the great Chick Corea.&lt;br /&gt;Namun dari deretan albumnya (yang buanyak nya minta ampun, dan baru sepersepuluhnya sempat mampir di telinga yang sangat tergantung pada kelengkapan perpustakaan musik Hannover ini ...), ada serentet komposisi unik: improvisasi solo. Improvisasi yang beneran improvisasi, berasal dari ketiadaan. Bukannya improvisasi dalam definisi jazz tradisional yang memain-mainkan 'tune' dari komposisi yang sudah ada lebih dulu. Improvisasi solo nya Jarrett (setidaknya demikian pengakuannya) adalah ledakan inspirasi yang tak terencana hingga saat ia duduk di depan piano dan audiens.&lt;br /&gt;Gila? Mungkin sedikit ...&lt;br /&gt;Tapi kalau anda sempat dan (kira-kira) suka (ama yang gila-gila), silakan coba dengarkan salah satu album improvisasi Jarrett, dan kalau saya boleh beri saran, coba yang satu ini: The Köln concert.&lt;br /&gt;Direkam tahun 1975 live di Köln. Kota tempat gereja dengan menara tertinggi di dunia berada, di lembah sungai Rühr kalau nggak salah ingat.&lt;br /&gt;Dalam album itu, gelegak nada mengalir ritmis dari jemari Jarrett. Pulasan vokalisasi sang pianis menyedak di sini sana, seolah ektasi datang tersua. Keseluruhan komposisi piano yang digelar di sana, tak salah lagi, adalah magi. Liris, sekali-kali emosional, sekali-kali malas, lalu menghentak, berhenti nakal, berpura-pura, melena. Meledak.&lt;br /&gt;Track IIA dan IIB yang panjangnya hampir 40 menit itu sudah jadi favorit saya tiap kali benak ini butuh inspirasi. Begitu kaya piano Jarrett bicara, hingga tiap kali musiknya dimainkan, tiap kali pula detil kecil baru tertangkap ...&lt;br /&gt;Siapa bilang sihir tak hadir di dunia mutakhir?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-111106125055995164?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/111106125055995164/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=111106125055995164' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/111106125055995164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/111106125055995164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2005/03/magi-improvisasi.html' title='Magi Improvisasi'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-109765571367680175</id><published>2004-10-13T01:20:00.000-07:00</published><updated>2004-10-13T07:46:28.996-07:00</updated><title type='text'>Como Fue</title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Ibrahim_Ferrer.jpg" align=right&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah cinta yang tak bersaput misteri? Dan jika adapun, masihkah ia menarik semenarik cinta? Adakah kita pernah sadar ketika jatuh cinta? Adakah seseorang sadar tatkala cinta menguap dari satu hubungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman membahasakan kesadaran itu sebagai ‘click’. Hingga saat ini ia masih saja setia berburu ‘click’ nya. Sebuah titik dalam waktu, mungkin semacam momen pencerahan, ketika cinta menjemput dalam kecemerlangan kesadaran. Entah sampai kapan ia mesti berburu. Tapi toh mungkin juga, seperti segala perburuan lainnya, harta terbesar dari sebuah pencarian adalah proses mencari itu sendiri ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, Ibrahim Ferrer menutup album solonya -yang penuh sihir irama kuba- dengan satu lagu yang judulnya ‘Como Fue’, ‘How it was’, ‘Gimana ‘sih dulunya’ dan senandungnya terasa ringan di telinga seperti juga di hati: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No se decirte como fue.&lt;br /&gt;Ni se explicarme que paso, &lt;br /&gt;pero de ti me enamore.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aku nggak bisa lagi cerita gimana dulunya. &lt;br /&gt;Dan jangan pula minta aku cerita tentang apa yang tengah terjadi, &lt;br /&gt;tapi aku tahu aku cinta padamu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin cinta itu memang nggak untuk ditelaah macam-macam. Nggak untuk diterangkan panjang lebar. Digambarkan, dituliskan, dinyanyikan, mungkin iya .... tapi semua itu bukanlah catatan rapi perihal cinta, semua itu adalah monumen pengingat bagi cinta oleh semua yang pernah jatuh cinta ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Como Fue?&lt;br /&gt;Buat apa sih tanya-tanya?&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-109765571367680175?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/109765571367680175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=109765571367680175' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/109765571367680175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/109765571367680175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2004/10/como-fue.html' title='Como Fue'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-109359263710939633</id><published>2004-08-27T01:37:00.000-07:00</published><updated>2004-09-16T07:19:02.086-07:00</updated><title type='text'>Black Workers Remember</title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/blackworkersremember.jpg"align=left&gt; Memphis, 1933.Meski perbudakan di Amerika sudah dihapuskan berpuluh tahun sebelum 1933, namun prasangka dan diskriminasi terhadap mereka yang berkulit gelap masih tetap marak dipraktekan. Itu adalah hari-hari di mana polisi dapat menciduk siapa saja yang berkulit gelap dari rumah mereka, dengan tuduhan yang direka-reka, membawanya ke satu sudut kota, menggebukinya hingga patah leher, dan meninggalkannya di sana.Fannie Henderson, 18 tahun. Terbangun di tengah malam, mendengar bentakan interograsi sekelompok polisi. Seorang pemuda negro terjerat masalah malam itu, di gang yang memisahkan rumah Fannie dengan gedung di sebelahnya. Entah apa masalahnya, para polisi mulai memukuli pemuda tadi, lagi dan lagi, tangan dan kakinya diborgol, ia tak bisa lari. Fannie Henderson berlari ke kamar lain, di mana temannya tidur. Namun temannya memilih untuk tak hirau akan apa yang tengah terjadi, 'pergilah tidur, tak perlu kau turut campur'.Namun Fannie tak pergi tidur lagi, ia memilih untuk berdiri di depan jendela dari mana ia bisa melihat semua yang terjadi. Ia mendengar dan melihat pemuda itu dipukuli hingga setengah mati, tak banyak yang bisa ia lakukan. Ia melihat moncong senapan diarahkan ke arah onggokan tubuh yang menggigil minta dikasihani. Fannie muda mendengar senapan-senapan menyalak, dan tubuh yang diterjang peluru mengejang dijemput maut. Ia tak pergi tidur, ia memilih untuk jadi saksi.Dan esoknya, Fannie mencari tahu siapa pemuda yang sial malam itu. Ditemukannya alamat, maka iapun pergi ke rumah yang tengah berduka. Istri pemuda itu sedang sakit, terbaring lemah di tempat tidur, ia telah dengar apa yang membuat suaminya tak pulang malam tadi. Fannie tinggal di rumah yang tengah berduka itu, dua hari lamanya. Menghibur dan menawarkan tangan yang mengasihi, menangis bersama, memberi diri untuk berbagi kehilangan.Di kemudian hari, ketika surat kabar memberitakan bahwa pemuda negro itu terbunuh ketika melarikan diri dari mobil polisi, Fannie menuliskan kesaksiannya ke NAACP (National Association for Advancement of Coloured People), lembaga nasional yang bergerak di bidang advokasi kulit berwarna. Ia berdiri bersaksi, gadis muda yang baru 18 tahun, bahwa tak mungkin pemuda itu melarikan diri dari mana saja, tak ada mobil polisi malam itu, tangan dan kaki pemuda itu diborgol ... Entah apa kemudian terjadi pada pemudi 18 tahun yang menulis surat kesaksiannya bagi NAACP. Tak ada catatan historis tentangnya.&lt;br /&gt;Namun surat itu bersaksi baginya, bahwa keberanian untuk mengungkap kebenaran, untuk tidak berpura tak tahu, untuk tak 'kembali tidur' pernah -dan semoga masih- hidup di muka bumi ini. Keberanian yang tak disemarakkan oleh bintang jasa dan seremoni, keberanian yang berhias keikhlasan untuk pergi ke rumah sang janda, menawarkan penghiburan. Keberanian yang rendah hati. Keberanian dari seorang biasa, seperti saya dan anda. Keberanian yang ditantang dari kita semua, untuk tidak tinggal diam di hadapan ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nukilan dari "Black Workers Remember" oleh Michael Keith Honey. Penerbit University of California Press, 1999.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-109359263710939633?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/109359263710939633/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=109359263710939633' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/109359263710939633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/109359263710939633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2004/08/black-workers-remember.html' title='Black Workers Remember'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-109359332228903250</id><published>2004-08-27T00:51:00.000-07:00</published><updated>2004-08-31T00:59:25.336-07:00</updated><title type='text'>Killing Time - Berani Bertanya</title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/KillingTime.jpg"align=left&gt;&lt;br /&gt;'Temanku Joan McKenna, ..., setelah diperkenalkan sebagai profesor tamu ia langsung memberi kuliah filsafat pertamanya di kelasku di Berkeley, 20 menit berlalu sebelum ia kemudian memberi kesempatan untuk bertanya. Beberapa mahasiswa memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan. Jawaban-jawaban McKenna terkesan seadanya, tidak tepat sasaran, terkadang bahkan sarkastik dan otoriter, mentertawakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tanpa benar-benar menjawabnya. Namun tidak seorangpun berani menyela, tak seorangpun menyanggah. Sebaliknya, beberapa orang menggeser posisi duduknya, sedikit menjauh dari mereka yang berani-beraninya bertanya. 'Well, kami nggak kepengin terlihat serupa dengan orang-orang bodoh macam kamu.', begitu seolah terisyaratkan oleh bahasa tubuh mereka yang menggeser tempat duduknya.Ketika McKenna melanjutkan, "Lihat apa yang kalian lakukan!", ujarnya pada seluruh kelas. "Aku tidak menjawab pertanyaan kalian, malah melecehkan mereka yang bertanya. Dan kalian menerima perlakuanku ini begitu saja, bukan hanya itu, kalian malah ikut melecehkan mereka yang bertanya. Pantas saja para profesor di sini bisa bicara apapun yang mereka sukai !" Setelah itu, kami berdiskusi tentang masalah ini.Bayangkan seseorang dengan otoritas di suatu bidang ilmu mengungkapkan sesuatu yang bagimu terdengar aneh, atau sekedar sukar dimengerti. Apa yang akan kau lakukan? Bangun dari kursimu, bertanyalah, minta penjelasan! Bayangkan si pemegang otoritas ini menjawabmu ala kadarnya, seolah tak sabar akan kebodohanmu, bayangkan kau tergugu di tengah kelas bertanya pada dirimu sendiri 'Akukah yang memang susah mengerti?' ... Well, seseorang lain mesti berdiri dan mengulang pertanyaan temannya "Aku juga kurang mengerti!" Jika si profesor tetap menjawab dengan otoriter dan sarkasme, orang ketiga mesti berdiri "Anda di sini untuk mengajar, bukannya mentertawakan kami; jadi dengan seluruh kerendahan hati, tolong jelaskan sekali lagi.""Jangan membangkang!", yang empunya otoritas mulai kelihatan kesal"Ia tidak sedang membangkang," siswa keempat berdiri. "Ia hanya bertanya, dan Anda belum menjawabnya." - dan seterusnya...."Well, mahasiswa tidak bisa benar-benar melakukan hal seperti itu." Salah seorang siswaku mengajukan pendapatnya, "Ia akan memberi kami nilai jelek".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Terjemahan bebas dari satu pasase dalam 'Killing Time, The autobiography of Paul Feyerabend'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul Feyerabend, dihitung dunia sebagai salah satu filsuf metodologi sains terdepan, ia mengajar di Uni California Berkeley dari 1960an.&lt;br /&gt;Berbeda dengan aliran mainstream yang mencoba 'merapikan' metode ilmiah, Feyerabend (nama keluarga yang sebenarnya adalah permainan kata dari Feierabend, istilah Jerman untuk 'free time') lebih menitikberatkan metodologi ilmiahnya pada impulse untuk bertanya, kejujuran, dan hasrat untuk menemukan kebenaran.&lt;br /&gt;'Berani bertanya', mungkin memang merupakan permulaan dari pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-109359332228903250?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/109359332228903250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=109359332228903250' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/109359332228903250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/109359332228903250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2004/08/killing-time-berani-bertanya.html' title='Killing Time - Berani Bertanya'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037057.post-109336427786183566</id><published>2004-08-24T08:40:00.000-07:00</published><updated>2004-08-31T01:00:53.663-07:00</updated><title type='text'>Buena Vista Social Club</title><content type='html'>&lt;img style="WIDTH: 286px; HEIGHT: 270px" height="81" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/buenavista.jpg"width="120" align="right" border="0" /&gt;Buena Vista Social Club?&lt;br /&gt;Suatu kali dalam perjalanan kembali dari Strassbourg, dalam kereta api yang membawa kami kembali ke kota kecil Neustadt/Weinstrasse tempat kami melewatkan praktikum, seorang teman meminjam koleksi CD ku yang memang selalu kubawa saat perjalanan jarak jauh seperti saat itu. Beberapa saat kemudian, kutemukan dia sedang asyik mengangguk-angguk + bergoyang pundak dengan earphone di telinga. Tersenyum ia sambil berkomentar 'You have a very nice salsa music here ...'&lt;br /&gt;SALSA? Perasaan tak pernah aku punya satu pun CD salsa ...&lt;br /&gt;Penasaran, kuambil salah satu earphone dari telinganya, setelah nguping sekejap segera aku tahu Cd mana yang sedang didengarkannya: Buena Vista Social Club (BSVC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salsa? atau ... Cuban jazz?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah kesan temanku, yang kedua adalah kesanku. Mungkin tak seorang dari kami mendeskripsikan BVSC dengan tepat. Pertama kali dengar, kukira ini satu grup musik. Tertarik juga karena terasa eksotik : cuban music? Seperti apa pula itu?&lt;br /&gt;Begitu dengar musik-musik mereka, piece by piece, tak ayal aku terpesona. Improvisasinya a la jazz, namun kental dengan feeling Spanish Caribean. Sengatan panas Havana yang tervisualisasi lewat cover album ini segera membayang di tengah kocokan gitar yang begitu sering mendominasi lagu-lagu di album ini.&lt;br /&gt;Buena Vista Social Club bukanlah satu nama grup musik. Meski setelah album ini melonjak pamornya karena Grammy Award yang diraihnya tahun 1996, pemusik-pemusik yang berkolaborasi di sini jadi seperti satu grup musik saja layaknya. Ketika Ry Cooder -produser- beride untuk memproduksi album ini, yang ada dalam benaknya adalah mempresentasikan Cuba bagi dunia. Mereka yang bermain dalam album ini adalah bintang-bintang panggung tahun 50'an di Cuba. Para veteran. Para maestro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The players and singers of the 'son de Cuba' have nurtured this very refined and deeply funky music in an atmosphere sealed off from the fall out of a hyper-organised and noisy world. In the time of about a hundred and fifty years, they have developed a beautiful ensemble concept that works like greased lightning. This album is blessed with some of the finest musicians in Cuba today - their dedication to the music and rapport with each other is unique in my experience. Working on this project was a joy and a great privilege. This music is alive in Cuba, not some remnant in a museum that we stumbled into. I felt that I had trained all my life for this and yet making this record was not what I expected in the 1990s. Music is a treasure hunt. You dig and dig and sometimes you find something. "&lt;br /&gt;Ry Cooder&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku yang memang sebatas penikmat, dan tak pernah bisa memainkan satu alat musik, album ini seolah hadir sebagaimana para pemainnya hadir. Kebanyakan pemusik di album ini sudah lewat masa emasnya, usia 60-70 an .... namun bukannya menurun dalam kreasi, talenta mereka seolah bereaksi bak anggur yang makin lama makin sedap. Sedap dan anggun.&lt;br /&gt;Begitulah kiranya aku boleh mendeskripsikan album ini: sedap karena aransemennya yang apik, improvisasinya yang terasa seolah menari di sekujur CD, dan anggun karena kemantapan para pemusiknya bermain. Sayang tak banyak yang aku bisa nikmati dari liriknya : Spanyol ...&lt;br /&gt;Namun bagaimanapun juga, aku jatuh cinta.&lt;br /&gt;Dan aku nggak sendiri, Buena Vista Social Club meraih Grammy International Best Album tahun 1996. Dan nggak kurang dari sutradara sekelas &lt;a href="http://www.wim-wenders.com/art/buenavistasocialclub.htm"&gt;Wim Wenders &lt;/a&gt;(sutradara kawakan Jerman, yang filmnya The Wings of Desire jadi inspirator City of Angelsnya Nicolas Cage &amp;amp; Meg Ryan) meracik film dokumenter tentang kehidupan para maestro Cuba ini.&lt;br /&gt;Cuba, oh .. Cuba ... . Sempat terbaca olehku di salah satu eksemplar lawas National Geographic tentang Cuba. Dan yang terbayang adalah eksperimen sosialisme, kejayaan yang memudar, jam-jam yang murung. Tak lagi, setelah aku disapa Buena Vista Social Club.&lt;br /&gt;Bagiku, Cuba kini tetaplah satu tempat jauh yang tak pernah kukunjungi (dan entah akankah pernah). Namun kapanpun aku bersua dengan Cuba dalam hidup sehari-hari, yang terbayang adalah hidup yang musikal karena toh seperti kata Ry Cooder 'In Cuba the music flows like a river. It takes care of you and rebuilds you from the inside out'.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037057-109336427786183566?l=buku-musik-film.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/feeds/109336427786183566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037057&amp;postID=109336427786183566' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/109336427786183566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037057/posts/default/109336427786183566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buku-musik-film.blogspot.com/2004/08/buena-vista-social-club.html' title='Buena Vista Social Club'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
